Followers

Friday, 1 January 2016

Is there good art and bad art?

Ada kutipan menarik yang pernah saya dapatkan dari sebuah percakapan dengan seorang teman di Jogja, waktu itu kami sedang  mengerjakan tugas produksi film dari kampus.
Seorang teman itu bilang di sela-sela penggarapan film "tidak ada karya yang jelek, yang ada hanyalah waktu dan tempat yang kurang tepat, untuk menikmati karya"

Saya mendadak tertegun, seolah kutipan yang hanya beberapa detik itu, merubah sudut pandang saya selamanya, tentang bagaimana memaknai karya seni apapun, termasuk musik, karena sebelumnya, saya tipe tukang protes pada musik atau film yang saya anggap butut..

Perkataan teman saya tadi pun, membuat saya memundurkan ingatan kebelakang lagi, dimana saya pernah tinggal beberapa bulan dirumah sepupu, rumah mereka terletak disebuah desa yang benar-benar terpencil, jauh dari kota, saluran tv pun tidak ada, komunikasi hanya mengandalkan telephone satelit yang ada didepan sebuah koperasi didesa tersebut, benar-benar terisolasi dari jangkauan sinyal apapun.

Satu-satunya perangkat hiburan buat mereka disana adalah tv dan vcd player, karena sudah memiliki tv sekian lama, tapi belum ada satupun tiang pemancar yang menjangkau desa itu.
Maka yang bisa mereka tonton dari tv adalah vcd, yang mereka beli dari kota.

Dan pastinya hiburan yang saya dengar dan tonton juga sudah pasti koleksi lagu yang mengikuti selera mereka.
Waktu itu, video yang selalu saya putar adalah koleksi lagu-lagu dari Celine Dion dan Lobo, saya bahkan sampai hampir hafal beberapa lirik lagu mereka.
Saya sangat menikmati lagu-lagu tersebut ketika sedang santai, karena tidak ada pilihan lain lagi.

Ternyata benar, saya sedang dihadapkan pada waktu dan tempat yang tepat, untuk menikmati lagu-lagu tadi, yang kalau berada di rumah sendiri, mungkin sangat enggan memasukkan lagu-lagu itu ke music playlist, karena akan lebih memilih lagu yang lebih enak menurut saya, atau bahkan mungkin tidak akan saya dengar samasekali karena bukan "selera".
Sampai disini, saya jadi teringat kutipan lain yang berbunyi "good music is a good music", musik enak atau tidak, tidak bisa diperdebatkan.
Karena selera itu sifatnya sangat spiritual.

Atas pengalaman tersebut, makin jelas, kenapa waktu dan tempat, terbukti menjadi faktor terpenting dalam kita menikmati karya, karena isi otak kita sudah terlalu terdistorsi oleh banyak pilihan dan perbandingan, seolah, kita ini perlu dipijah, atau dibawa ke dimensi yang berbeda, untuk lebih bisa menikmati sebuah karya yang mungkin, gagal kita nikmati.

Dari perihal tersebut, sampai sekarang saya menjadi enggan untuk bilang bahwa sebuah lagu, puisi, lukisan, film atau karya seni apapun itu jelek, terlepas dari baik atau buruk muatannya.

Monday, 28 December 2015

It's Hiphop Poetry Battle

Tahun 2007 Jogja Hiphop Foundation, bikin project Poetry Battle (battle puisi) adaptasi dari scene Hiphop di Perancis, yang sedang dilanda demam battle rap, tapi bukan dengan rima melainkan puisi.

Sekumpulan grup hiphop asal Jogja pun direkrut dalam proyek tersebut, gw yang waktu itu masih tergabung di grup "Siasat" , juga punya project diluar grup, Namanya Bluesclues (bareng Dimas A.K.A D Boys) dan duo inilah yang diajak ikut serta dalam project album Poetry Battle 1 (2007) dan album kedua Poetry Battle 2 (2008) oleh Marzuki Mohammad, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Kill the DJ.
Ditengah perjalanan bareng JHF, nama grup Bluesclues dianggap terlalu ABG, mengingat materi lagu yang kami bawakan muatannya sangat "berat". Kill The Dj sebagai leadernya, mengganti nama Bluesclues dengan "Gatholoco" yang mempunyai arti kurang lebih : Lambang lelaki sejati, yang mampu memahami proses penciptaan manusia.
Terdengar sangat kolosal, etnik. Dan gw sama Dimas menyukainya

Singkatnya, setelah melewati proses rekaman dan penggarapan album selesai, kami menuju ibukota untuk me-launching album Poetry Battle.
Dari Jogjakarta, menggunakan Bus malam, rombongan kami menuju Jakarta.
Taman Ismail Marzuki, panggung yang dianggap paling sakral oleh kalangan seniman Indonesia adalah tempat pertama kami launching album dan tahun berikutnya pun masih di tempat yang sama, hanya berbeda spot panggung saja.
Senang rasanya waktu itu bisa sepanggung dengan Rapper kawakan sekelas Iwa K dan Rotra untuk pertama kalinya.
Berikut lagu yang gue bikin bareng Dimas.


Cinta Dalam Retrospektif Alkohol Akhir Tahun (Puisi Saut Situmorang) Poetry Battle 1, 2007



Catatan Akhir Tahun Antara Lebaran Dan Natal (Puisi Hesri Setiawan) Poetry Battle 2, 2008


SIASAT

Bluesclues/Gatholoco/G Locco


 

Flyer




 Video Dokumentasi 2007


 
 
  
 

Video Dokumentasi 2008

 
 

Sunday, 6 December 2015

Everything has to grow

Dunia sempat menjadi saksi bangkrutnya perusahaan raksasa ponsel, Nokia, Karena Nokia dianggap terlambat bahkan terkesan mempertahankan idealisme mereka, rival mereka Samsung, dengan basis android benar-benar menggerus habis nasib perusahaan yang pernah jadi raja di masa keemasan mereka.

Pagi ini, ketika ngeliat foto es krim stik yang udah gw jepret beberapa hari lalu, terbersit pemikiran naif, kenapa Nokia tidak belajar dari Walls misalnya, foto es krim disamping, adalah salah satu varian unggulan Walls dari gw masih duduk di bangku SD, rasa dan bentuk serta kemasan masih sama, harganya saja yang sudah berbeda, artinya Walls masih kokoh sebagai pionir es krim pabrikan di Indonesia, karena mempertahankan salahsatu produk unggulan mereka, namun terus berkembang dengan memperbanyak varian yang lain, sama seperti yang Indofood lakukan, dengan menjaga kualitas mie goreng originalnya yang tidak ada kata bosan apabila disajikan, bahkan buat gw sendiri, Indomie goreng original, adalah mahakarya Indofood yang paling bertahan dan laku keras dipasaran, kedua contoh produk diatas buat gw adalah bentuk sikap mempertahankan identitas, meskipun dalam alur jaman, akan ada terus pembaharuan.

Gw mencoba mengaitkan kejadian diatas dengan apa yang gw bangun dengan bermusik.
Mempertahankan warna musik, menimbulkan anggapan yang beragam, ada yang memandang kolot, adapula yang melihat sebagai bentuk idealisme yang saat ini langka dan mahal.
Bimbim, drummer Slank, pernah diancam akan dibunuh kalo sampe Slank bubar, rasa kecewa mereka para Slanker pecinta formasi 13 muncul ketika Bongky, Indra dan Pay keluar dari Slank, mereka menganggap permainan keyboard Indra dan warna petikan gitar Pay serta bass dari Bongky, adalah bagian identitas dari Slank, memasukan Ridho, Ivan dan Abdee, hanya akan membuat warna musik Slank berubah, perhatian fans militan formasi 13 sedikit "terpecah", Mereka lebih melirik ke grup baru bentukan Bongky, Indra dan Pay (BIP), karena bagi mereka, warna musik sejati Slank ada di BIP.
Meskipun begitu, Slank tetap sukses dengan laku keras album Tujuh Slank, dengan single Balikin, yang masih membius para Slankers.
Sampai disini gw sadar, warna musik dari awal kita berangkat bermusik adalah kesan pertama yang
ditangkap oleh para pendengar dan itu yang menjadi kuncian buat para musisi itu sendiri, Dave Mustaine cabut dari Metallica, Wes Borland cabut dari Limp Bizkit dan masih banyak lain contoh yang membuat gw ngambil kesimpulan bahwa hal riskan merubah formasi band menimbulkan efek samping, yang mungkin malah tidak disadari sama si musisi tersebut, telah sedikit banyak membuat membuat penggemar kecewa, karena mereka para fans sudah terbiasa dan kadung jatuh cinta dengan kesan pertama dari band idola mereka, meskipun demikian, akan tetap ada fans sejati yang gak peduliin itu semua dan tetap mendukung musisi idolanya berkarya.

Pun demikian kejadian di skena hiphop, lahirnya corak dan warna bermusik dalam hiphop yang sedemikian up to date di permukaan, mungkin membuat telinga para pendengar musik yang kadang cenderung "latah" dengan mudah digiring oleh selera pasar, (sampai disini, bikin gw mulai merenung, benarkah idiom "selera pasar" ini atau manusia yang pada dasarnya bermental kerumunan ini sedang kesetir mindset-nya sama industri dan adanya regenerasi telinga-telinga baru yang jadi konsumen musik nan upgrade) hal itu mungkin menimbulkan kegerahan bagi para penikmat hiphop golden era, mereka seperti sedang kekurangan subsidi musik baru dengan kemasan lawas.

Gw gak sedang debatin cara bertampil ala swag atau bermusik ala old school atau gangsta lah, smooth lah dan apapun pilihan sub-genre nya.
Karena sekali lagi, ini tentang perenungan warna musik yang begitu cepat bergulir.

Diatas semua itu, gw masih memegang teguh keyakinan "good musik is a good music" apapun warna musik yang diusung, tiada guna peradilan untuk mereka yang memilih seleranya untuk tetap disini dan disana, haha...

Sekian, jadi pengen indomie goreng soalnya...